Rabu, 29 Oktober 2014

SOSOK (3)

Undang

JURU LANGSIR DI STASIUN TERTINGGI CIKAJANG

Kompas, Senin, 14 April 2014
 

Undang menjadi juru langsir lokomotif di Stasiun Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada era tahun 1950-an hingga sekitar tahun 1972. Pada saat ini, Undang tidak lagi bekerja sebagai juru langsir, namun perhatiannya pada perkeretaapian tidak menyurut. Undang sekarang mencari nafkah dengan menjadi tukang becak. Meski usianya sudah 82 tahun, tubuhnya masih tegap dan dia merasa sehat. Dalam perkawinannya dengan Endah, mereka dikaruniai 13 anak dan dua diantaranya telah meninggal.
Stasiun Cikajang adalah stasiun tertinggi di Indonesia yang terletak 1.246 meter di atas permukaan laut. Stasiun ini merupakan stasiun ujung dari lintasan cabang Stasiun Cibatu, yang melewati Stasiun Garut sepanjang sekitar 47 kilometer. Dari informasi tertulis yang ada, lintasan Stasiun Cikajang ditutup mulai November 1982, begitupun beberapa lintasan stasiun Jawa Barat lainnya pada tahun itu. Penyebab ditutupnya layanan angkutan transportasi massal kereta api tersebut diperkirakan karena kekurangan bahan bakar batubara untuk lokomotif serta banyak lokomotif menjadi rusak dan kurang terawat.
Kakaknya, Encoh memang terlebih dahulu bekerja di Stasiun Cikajang sebagai juru langsir juga. Mereka berdua menjadi juru langsir lokomotif untuk berbalik, dari semula di depan gerbong ke belakang gerbong. Undang mengenang selama menjalankan pekerjaan juru langsir selama lebih dari 20 tahun, dia diberi upah sekitar 120 kilogram beras per bulan. Sayang, saat hendak menjadi pegawai tetap PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api, sekarang : PT. KAI) demi gaji tetap, Undang tidak diterima. Selepas diyatakan ditolak sebagai pegawai resmi perusahaan pengelola kereta api, Undang kemudian menjalani hidup sebagai kuli.
Selama setahun berikutnya, dia masih dipekerjakan untuk melangsir sampai 10 tahun berlalu sampai Stasiun Cikajang mati. Undang menjadi saksi hidup nadi perkeretaapian di Stasiun Cikajang. Stasiun ini beroperasi sejak 30 Agustus 1930. Kereta api selain berfungsi untuk mengangkut penumpang, juga digunakan untuk mengangkut berbagai komoditas yang dihasilkan di wilayah Jawa Barat bagian selatan tersebut pada saat itu seperti karet, teh, kentang, dan kina yang di kirim ke Batavia (Jakarta).
Sekarang ini kondisi bangunan Stasiun Cikajang mengenaskan. Sebagai penanda stasiun kereta api tertinggi, stasiun ini luput dari perhatian pemerintah. Undang menyayangkan hal itu bukan karena predikat tersebut, tetapi kereta api tetap dibutuhkan masyarakat sampai kapan pun.

Opini

Menurut saya, Undang adalah sosok yang tidak mudah menyerah, pekerja keras, dan sederhana. Meski keadaan kehidupannya tidak seperti yang Undang inginkan, namun ia tetap bersyukur untuk menjalankannya dengan harapan yang besar untuk berkembangnya perkeretaapian di Indonesia.

Definisi Critical Thinking, Logic dan Fallacies


Critical Thinking

Critical thinking atau berpikir kritis adalah suatu proses dimana kita membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan berpikir kritis, kita dapat mengetahui penalaran yang memanipulasi dan menyesatkan kita. Tidak hanya itu, kita juga dapat mengetahui fakta dan kebenaran dari sebuah argument atau permasalahan yang ada, mampu berpikiran terbuka dan adil, dan  tidak menolak akan terjadinya pemeriksaan ulang dalam suatu hal.

Orang-orang yang berpikir kritis, tidak akan terkena ancaman atau mengalami pandangan yang berlawanan, karena mereka mencari kebenaran. Pemikir kritis mempunyai sifat mempertanyakan segala sesuatu, untuk mengorek kebenaran. Alat yang mereka gunakan adalah logika penelitian dan pengalaman.  Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa, dengan berpikir kritis, kita akan mengetahui hal-hal yang tersembunyi menjadi jelas.

 


 

Logic

Logic atau logika adalah ilmu penalaran dimana bentuknya non-empiris, seperti matematika. Logika tidak berarti berkaitan dengan proses mental, melainkan sebagai penyelidikan dalam bidang psikologi, neurofisiologi, atau cybernetics. Dengan logika, kita dapat mengungkapkan proses yang tepat yang terjadi di dalam kepala atau dalam suatu penalaran.  Sehingga dapat di artikan juga bahwa, membedakan penalaran yang benar dan yang salah adalah tugas dari logika.

 


 

Fallacies

Fallacies atau kesalahan adalah, kesalahan yang sering didapat dalam sebuah penalaran. Kesalahan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kesalahan dari ketidakrelevanan, kesalahan dari praduga, dan kesalahan yang ambigu. Untuk kesalahan yang tidak relevan, definisinya adalah bahwa bukti yang ada, tidak bisa benar-benar dibuktikan dalam permasalahan yang diperdebatkan. Berbeda dengan kesalahan dari praduga, bahwa bukti yang ada tidak menyangkut dengan asumsi yang ingin diselesaikan,  melainkan membahas mengenai sesuatu yang seharusnya tidak di asumsikan. Sedangkan kesalahan melalui ambigu, ini sangat sulit dipahami karena melibatkan ketidakpahaman tentang asumsi yang ada.

 
Sumber : http://www-rohan.sdsu.edu/faculty/rfreeman/CHAPTER3.pdf

Kamis, 23 Oktober 2014

SOSOK (2)


Agus “Agnes” Widodo

PENERUS SAMPUR LENGGER LANANG BANYUMAS

Kompas, Rabu, 21 mei 2014

 

Agus widodo adalah nama aslinya, sedangkan nama panggungnya adalah Agnes. Pria kelahiran 14 Agustus 1987 asal Banyumas ini, adalah seorang penari lengger yang terkenal di kota asalnya tersebut. Tidak hanya di Banyumas, tetapi ia juga terkenal di sejumlah wilayah di Jawa Barat. Anak dari Bapak Hadisusilo dan Ibu Sainah ini, mencintai kesenian tari lengger sejak ia masih balita. Saat itu, Agus diajak oleh sang kakek untuk menemaninya untuk mengisi acara hajatan wayang atau pertunjukan kesenian lokal. Kakeknya merupakan pengrawit calung banyumasan, sehingga tidak heran jika seni sudah mengalir didalam diri Agus. Pada hajatan tersebut, Agus terpukau dengan gemulainya penari lengger yang menjadi bintang panggung disana.

Setelah malam itu, Agus pun mulai nekat untuk mencuri waktu untuk kabur mengikuti rombongan lengger pentas dari dusun ke dusun. Dia pun akhirnya sering menari dan meniru gerakan penari lengger tersebut. Hal itu pun memengaruhi dirinya untuk menyukai hal-hal yang feminin. Tidak hanya menari, saat ia kelas V SD, ia mulai membantu tetangganya yang mempunyai usaha rias, sehingga tidak heran ia sering disebut sebagai banci. Walaupun sedih, Agus terus melanjutkan kecintaannya tersebut.  Setelah berjalannya waktu, ia pun akhirnya semakin sering mendapatkan tawaran untuk pentas ke kampung-kampung lain.

Agus menolak permintaan ayahnya untuk bersekolah di STM, dan melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) Banyumas. Saat bersekolah di sana, Agus mengenal sosok Mbok Dariah, sang maestro lengger lanang Banyumas. Mbok Dariah merupakan seorang penari sejak era perjuangan kemerdekaan. Yusmanto, salah seorang guru di SMKI Banyumas, menawari Agus untuk memainkan peran Mbok Dariah muda. Dan disaat memerankan peran tersebut, Agus pun terpanggil untuk meneruskan tari lengger lanang yang pada saat itu terhenti.

Setelah lulus dari SMKI Banyumas, Agus lebih memilih untuk langsung terjun ke panggung, dibandingkan harus meneruskan pendidikannya ke Institut Seni Indonesia (ISI), Karena menurut dia, dia sudah yakin untuk menjadi seorang penari lengger. Dia pun memilih nama “Agnes” sebagai nama panggungnya. Persaingan pun terkadang membuat karier Agus tidaklah mudah, tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah. Sebelum ia memulai pentasnya, Agus “mengubah” dirinya menjadi Agnes, ia harus berangkat dan pulang manggung menggunakan baju laki-laki biasa.  Agus menampilkan citra sebagai lengger lanang secara utuh, tidak seperti penari lengger lainnya.

Pencapaian yang Agus dapat adalah, menari di Taman KB Semarang (Apresiasi Budaya Jateng, 2014), dan International Mask and Art Culture Organization (Festival and Celebrating The 40th Anniversary of Korea-Indonesia Diplomatic Relations, Andong, Korea Selatan, 2013) Walaupun tenar, hal tersebut tidak merubah diri Agus. Ia tetap hidup sederhana di perbukitan di ujung selatan Kabupaten Banyumas. Sesekali, Agus mengajar anak-anak di kampugnya menari. Ia juga aktif mengasuh sanggar seni ebeg (kuda panjang). Harapannya adalah, agar tari lengger lanang dari Banyumas banyak bermunculan, sehingga 20-30 tahun lagi tidak membatu menjadi sejarah.

 

Opini

Menurut saya, Agus adalah sosok yang tidak mudah menyerah, dan mempunyai prinsip yang kuat akan keinginan dan cita-citanya tersebut. Walaupun sudah dicibir teman-temannya, Agus tetap menjalani cita-citanya tanpa terhalang oleh cibiran tersebut. Sehingga ia dapat mencapai kesuksesannya hingga sekarang.

SOSOK (1)




Patrick Modiano

PENJELAJAH MEMORI DAN IDENTITAS

Kompas, Sabtu, 11 Oktober 2014

 
Patrick Modiano yang dikenal dengan julukan “Arkeolog Sastra”, adalah seorang penulis yang berasal dari Paris. Ia lahir pada tanggal 30 Juli 1945, di Bougne-Billancourt, daerah pinggiran Paris, dimana saat itu hanya beberapa bulan setelah berakhirnya kependudukan Jerman yang Pro Nazi, pada akhir 1944. Modiano adalah keturunan berdarah campuran, dikarenakan Ayahnya, Alberto Modiano yang seorang pebisnis, berdarah Yahudi-Italia, sedangkan ibunya, Louisa Colpeyn, adalah seorang artis yang berasal dari Belgia.  Latar belakang Modiano tersebut, berperan penting dalam novel-novel buatannya.

Karya awal Modiano dimulai disaat kematian adiknya Rudy, karya tersebut menuliskan memori yang ada saat bersama adiknya itu. Karya Modiano pun semakin meningkat karena ilmu yang diberikan oleh seorang guru Matematika yang bernama, Raymond Queneau di Lycee Henri IV, Paris. Beliau juga merupakan seorang penulis, sehingga ia berpengaruh besar dalam membangun Modiano menjadi seorang penulis. Pada umur beliau yang ke 22 tahun, Modiano menerbitkan novel pertamanya yang berjudul La Place de l’Etoile (1968), yang menggambarkan masa perang di Paris. Buku yang berisikan imajinatif dan fakta-fakta, membuat karyanya juga dijadikan riset oleh peneliti yang ingin mencari tahu jiwa zaman. Dia pun juga menambah kilap sastra Perancis, sehingga para novelisnya dikatakan sebagai pemikir, bukan “novelis murni”.

Hingga pada saat ini, Modiano memiliki 40 karya, yang 20 diantaranya berupa novel. Karya-karyanya tersebut diterjemahkan kedalam beberapa bahasa. Diantara karya-karyanya adalah, La Place l’Etoile (1968), Le Boulevards de Ceinture (Rings Road, 1974) dan Villa Triste (1975). Modiano juga dikenal sebagai penulis buku anak dan naskah film documenter, seperti naskah film Lacombe, Lucien (1974) dan naskah film Bon Voyage (2003).  Pada akhirnya, setelah kerja keras berbagai penghargaan yang beliau dapat,tak disangka ia pun meraih Nobel Sastra 2014, padahal nama beliau tidak disebut di kantor berita. Walaupun begitu, Modiano merupakan seseorang yang rendah hati dan tak akan ditemui di pesta-pesta koktail para editor di Paris.

Modiano menyatakan bahwa beliau hanya ingin menulis, dan beliau mengatakan bahwa menulis adalah bagian dari dirinya selama 45 tahun. Ketika Modiano diwawancarai jurnalis dari France Today pada 2011, beliau berkata “ Setiap menyelesaikan sebuah novel, saya merasa sudah mengeluarkan semuanya. Namun, saya tahu, saya akan kembali lagi dan lagi ke detail-detail kecil yang tersisa. Hal-hal kecil yang menjadi bagian diri saya. Pada akhirnya, kitat ditentukan oleh tempat dan waktu kita dilahirkan.”

 

Opini
Menurut saya, Modiano adalah sosok yang pekerja keras, sederhana, dan patut kita contoh. Karena, walaupun beliau adalah seseorang yang tenar, ia tidak sombong terhadap karya-karya yang ia buat tersebut.