Rabu, 29 Oktober 2014

Definisi Critical Thinking, Logic dan Fallacies


Critical Thinking

Critical thinking atau berpikir kritis adalah suatu proses dimana kita membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan berpikir kritis, kita dapat mengetahui penalaran yang memanipulasi dan menyesatkan kita. Tidak hanya itu, kita juga dapat mengetahui fakta dan kebenaran dari sebuah argument atau permasalahan yang ada, mampu berpikiran terbuka dan adil, dan  tidak menolak akan terjadinya pemeriksaan ulang dalam suatu hal.

Orang-orang yang berpikir kritis, tidak akan terkena ancaman atau mengalami pandangan yang berlawanan, karena mereka mencari kebenaran. Pemikir kritis mempunyai sifat mempertanyakan segala sesuatu, untuk mengorek kebenaran. Alat yang mereka gunakan adalah logika penelitian dan pengalaman.  Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa, dengan berpikir kritis, kita akan mengetahui hal-hal yang tersembunyi menjadi jelas.

 


 

Logic

Logic atau logika adalah ilmu penalaran dimana bentuknya non-empiris, seperti matematika. Logika tidak berarti berkaitan dengan proses mental, melainkan sebagai penyelidikan dalam bidang psikologi, neurofisiologi, atau cybernetics. Dengan logika, kita dapat mengungkapkan proses yang tepat yang terjadi di dalam kepala atau dalam suatu penalaran.  Sehingga dapat di artikan juga bahwa, membedakan penalaran yang benar dan yang salah adalah tugas dari logika.

 


 

Fallacies

Fallacies atau kesalahan adalah, kesalahan yang sering didapat dalam sebuah penalaran. Kesalahan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kesalahan dari ketidakrelevanan, kesalahan dari praduga, dan kesalahan yang ambigu. Untuk kesalahan yang tidak relevan, definisinya adalah bahwa bukti yang ada, tidak bisa benar-benar dibuktikan dalam permasalahan yang diperdebatkan. Berbeda dengan kesalahan dari praduga, bahwa bukti yang ada tidak menyangkut dengan asumsi yang ingin diselesaikan,  melainkan membahas mengenai sesuatu yang seharusnya tidak di asumsikan. Sedangkan kesalahan melalui ambigu, ini sangat sulit dipahami karena melibatkan ketidakpahaman tentang asumsi yang ada.

 
Sumber : http://www-rohan.sdsu.edu/faculty/rfreeman/CHAPTER3.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar