Kamis, 23 Oktober 2014

SOSOK (1)




Patrick Modiano

PENJELAJAH MEMORI DAN IDENTITAS

Kompas, Sabtu, 11 Oktober 2014

 
Patrick Modiano yang dikenal dengan julukan “Arkeolog Sastra”, adalah seorang penulis yang berasal dari Paris. Ia lahir pada tanggal 30 Juli 1945, di Bougne-Billancourt, daerah pinggiran Paris, dimana saat itu hanya beberapa bulan setelah berakhirnya kependudukan Jerman yang Pro Nazi, pada akhir 1944. Modiano adalah keturunan berdarah campuran, dikarenakan Ayahnya, Alberto Modiano yang seorang pebisnis, berdarah Yahudi-Italia, sedangkan ibunya, Louisa Colpeyn, adalah seorang artis yang berasal dari Belgia.  Latar belakang Modiano tersebut, berperan penting dalam novel-novel buatannya.

Karya awal Modiano dimulai disaat kematian adiknya Rudy, karya tersebut menuliskan memori yang ada saat bersama adiknya itu. Karya Modiano pun semakin meningkat karena ilmu yang diberikan oleh seorang guru Matematika yang bernama, Raymond Queneau di Lycee Henri IV, Paris. Beliau juga merupakan seorang penulis, sehingga ia berpengaruh besar dalam membangun Modiano menjadi seorang penulis. Pada umur beliau yang ke 22 tahun, Modiano menerbitkan novel pertamanya yang berjudul La Place de l’Etoile (1968), yang menggambarkan masa perang di Paris. Buku yang berisikan imajinatif dan fakta-fakta, membuat karyanya juga dijadikan riset oleh peneliti yang ingin mencari tahu jiwa zaman. Dia pun juga menambah kilap sastra Perancis, sehingga para novelisnya dikatakan sebagai pemikir, bukan “novelis murni”.

Hingga pada saat ini, Modiano memiliki 40 karya, yang 20 diantaranya berupa novel. Karya-karyanya tersebut diterjemahkan kedalam beberapa bahasa. Diantara karya-karyanya adalah, La Place l’Etoile (1968), Le Boulevards de Ceinture (Rings Road, 1974) dan Villa Triste (1975). Modiano juga dikenal sebagai penulis buku anak dan naskah film documenter, seperti naskah film Lacombe, Lucien (1974) dan naskah film Bon Voyage (2003).  Pada akhirnya, setelah kerja keras berbagai penghargaan yang beliau dapat,tak disangka ia pun meraih Nobel Sastra 2014, padahal nama beliau tidak disebut di kantor berita. Walaupun begitu, Modiano merupakan seseorang yang rendah hati dan tak akan ditemui di pesta-pesta koktail para editor di Paris.

Modiano menyatakan bahwa beliau hanya ingin menulis, dan beliau mengatakan bahwa menulis adalah bagian dari dirinya selama 45 tahun. Ketika Modiano diwawancarai jurnalis dari France Today pada 2011, beliau berkata “ Setiap menyelesaikan sebuah novel, saya merasa sudah mengeluarkan semuanya. Namun, saya tahu, saya akan kembali lagi dan lagi ke detail-detail kecil yang tersisa. Hal-hal kecil yang menjadi bagian diri saya. Pada akhirnya, kitat ditentukan oleh tempat dan waktu kita dilahirkan.”

 

Opini
Menurut saya, Modiano adalah sosok yang pekerja keras, sederhana, dan patut kita contoh. Karena, walaupun beliau adalah seseorang yang tenar, ia tidak sombong terhadap karya-karya yang ia buat tersebut.

1 komentar:

  1. Setelah membaca mengenai sosok Modiano saya setuju dengan pendapat yang diutarakan karena dengan memenangkan Nobel Sastra 2014 ia sangat rendah hati dan tetap sederhana walaupun karyanya sudah sangat banyak.

    BalasHapus