Patrick Modiano
PENJELAJAH
MEMORI DAN IDENTITAS
Kompas,
Sabtu, 11 Oktober 2014
Patrick Modiano yang dikenal
dengan julukan “Arkeolog Sastra”, adalah seorang penulis yang berasal dari
Paris. Ia lahir pada tanggal 30 Juli 1945, di Bougne-Billancourt, daerah pinggiran
Paris, dimana saat itu hanya beberapa bulan setelah berakhirnya kependudukan
Jerman yang Pro Nazi, pada akhir 1944. Modiano adalah keturunan berdarah
campuran, dikarenakan Ayahnya, Alberto Modiano yang seorang pebisnis, berdarah
Yahudi-Italia, sedangkan ibunya, Louisa Colpeyn, adalah seorang artis yang
berasal dari Belgia. Latar belakang
Modiano tersebut, berperan penting dalam novel-novel buatannya.
Karya awal Modiano dimulai
disaat kematian adiknya Rudy, karya tersebut menuliskan memori yang ada saat
bersama adiknya itu. Karya Modiano pun semakin meningkat karena ilmu yang
diberikan oleh seorang guru Matematika yang bernama, Raymond Queneau di Lycee
Henri IV, Paris. Beliau juga merupakan seorang penulis, sehingga ia berpengaruh
besar dalam membangun Modiano menjadi seorang penulis. Pada umur beliau yang ke
22 tahun, Modiano menerbitkan novel pertamanya yang berjudul La Place de l’Etoile (1968), yang
menggambarkan masa perang di Paris. Buku yang berisikan imajinatif dan
fakta-fakta, membuat karyanya juga dijadikan riset oleh peneliti yang ingin
mencari tahu jiwa zaman. Dia pun juga menambah kilap sastra Perancis, sehingga
para novelisnya dikatakan sebagai pemikir, bukan “novelis murni”.
Hingga pada saat ini, Modiano
memiliki 40 karya, yang 20 diantaranya berupa novel. Karya-karyanya tersebut
diterjemahkan kedalam beberapa bahasa. Diantara karya-karyanya adalah, La Place l’Etoile (1968), Le Boulevards de Ceinture (Rings Road,
1974) dan Villa Triste (1975).
Modiano juga dikenal sebagai penulis buku anak dan naskah film documenter,
seperti naskah film Lacombe, Lucien
(1974) dan naskah film Bon Voyage
(2003). Pada akhirnya, setelah kerja
keras berbagai penghargaan yang beliau dapat,tak disangka ia pun meraih Nobel
Sastra 2014, padahal nama beliau tidak disebut di kantor berita. Walaupun
begitu, Modiano merupakan seseorang yang rendah hati dan tak akan ditemui di
pesta-pesta koktail para editor di Paris.
Modiano menyatakan bahwa beliau
hanya ingin menulis, dan beliau mengatakan bahwa menulis adalah bagian dari
dirinya selama 45 tahun. Ketika Modiano diwawancarai jurnalis dari France Today
pada 2011, beliau berkata “ Setiap menyelesaikan sebuah novel, saya merasa
sudah mengeluarkan semuanya. Namun, saya tahu, saya akan kembali lagi dan lagi
ke detail-detail kecil yang tersisa. Hal-hal kecil yang menjadi bagian diri
saya. Pada akhirnya, kitat ditentukan oleh tempat dan waktu kita dilahirkan.”
Opini
Menurut saya, Modiano adalah
sosok yang pekerja keras, sederhana, dan patut kita contoh. Karena, walaupun
beliau adalah seseorang yang tenar, ia tidak sombong terhadap karya-karya yang
ia buat tersebut.
Setelah membaca mengenai sosok Modiano saya setuju dengan pendapat yang diutarakan karena dengan memenangkan Nobel Sastra 2014 ia sangat rendah hati dan tetap sederhana walaupun karyanya sudah sangat banyak.
BalasHapus