Rabu, 10 Desember 2014

SOSOK (9)



Ibnu Pratomo



Tak sekadar Menempa Besi

Kompas, Jumat, 5 Desember 2014

Ibnu Pratomo adalah seorang pandai besi, ia lahir pada tanggal 18 Desember 1976 di Jakarta. Awal mula ketertarikannya dengan pandai besi, ketika masih kuliah S-1 di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) di ITB.  Alasannya agak sedikit rumit, ia ingin membangun kembali profesi pandai besi yang tak bisa terpisahkan dari budaya Indonesia di masa lampau. Keinginannya tersebut semakin kuat ketika ia kuliah S-2 di Fakultas yang sama. Sambil meneliti, ia juga menuntut ilmu ke berbagai budayawan, salah satunya adalah “empu” Basuki, ia pengajar dan juga pembuat keris dari Kampus Institut Seni Indonesia Solo. Ibnu menuntut ilmu dengan Basuki, enam tahun lamanya.

Disaat yang bersamaan, Ibnu juga mengamati teman kuliah yang juga adik kelasnya. Ia ingin mencari orang-orang yang yang memiliki minat yang sama dengan dirinya. Pada tahun 2004, Ibnu dan beberapa mahasiswa yang berminat, membuat Kelompok Tangan Hitam, dinamakan Tangan Hitam karena setiap kali mereka menempa logam, tangan mereka menjadi hitam. Kelompok tersebut akhirnya menarik banyak minat beberapa mahasiswa ITB lain, sehingga menjadi ramai. 

Setelah Ibnu bergelar master seni murni, ia membentuk Unit Mahasiswa Pijar ITB. Itu adalah kelompok resmi penempa besi di kampus tersebut. Ibnu menginginkan sesuatu yang lebih, ia ingin agar menempa besi ini disebar luaskan, agar kegiatan tidak hanya ada di Kampus ITB saja. Ia pun membentuk Pijar Komunitas Menempa Bandung yang beranggotakan anak muda, dari berbagai kampus.  Sesuai dengan nama komunitasnya, ia ingin juga agar mereka bisa melanjutkan tradisi bangsa.

Lewat komunitas itulah Ibnu dan teman-temannya, mengajarkan ilmu menempa besi dengan mengadakan pelatihan di kampus-kampus dan beberapa kali di pusat perbelanjaan. Mereka juga terkadang kedatangan beberapa sekolah untuk kunjungan pariwisata ke markas yang berapa di Jalan Salatiga, Antapani, Bandung. Ilmu yang diajarkan tidak hanya menempa besi , tetapi sering adanya diskusi mengenai aspek sejarah pusaka dari logam. 

Mereka menguliti filosofi pusaka dan nilai yang bisa diperoleh dari menempa besi, tetapi mereka tidak memasukan aspek mistis pusaka, sehingga mereka tidak akan menjawab apa isi dari keris-keris tersebut. Menerut mereka, isi yang paling penting adalah nilai yang terkadung di balik pusaka tersebut. Ibnu juga berpendapat bahwa karya pandai besi tidak identik dengan benda tajam, terutama pusaka.
 
“Pandai besi yang baik adalah yang tidak ahli menempa besi menjadi senjata, tetapi juga menempa diri sendiri sehingga senjata yang dihasilkan tidak digunakan untuk kejahatan”, kata Ibnu. Penyebarahn ilmu akan semakin disebar luaskan, mereka berencana untuk membuat sebuah galeri dan juga bengkel kerja di daerah Babakan Siliwangi, hutan rimbun di pusat keramaian Kota Bandung.  Mereka juga berencana akan menjual produk pusaka karya mereka di bawah Saltig.

Opini
Pandai besi merupaka profesi yang jarang dipilih oleh orang-orang banyak, terutama remaja. Dikarenakan pekerjaan yang sulit, berat, panas, dan dibutuhkannya kesabaran dalam profesi ini. Saya kagum dengan Bapak Ibnu, ia mampu membangun kembali profesi kebudayaan yang unik di Nusantara ini. Saya berharap semakin banyak profesi yang dapat memajukan budaya Indonesia, agar budaya kita tidak hilang atau punah.

1 komentar:

  1. Saya setuju dengan apa yang Naimi katakan di opini. Saya sedikit berpesan untuk kaum remaja, agar selalu mencintai profesi apapun dan selalu mencoba untuk mencari perubahan agar kelak bangsa Indonesia bisa semakin dikenal dengan budaya atau ciri khasnya, dan tidak lupa untuk selalu melestarikannya :)

    BalasHapus