Ibnu Pratomo
Tak sekadar
Menempa Besi
Kompas, Jumat, 5
Desember 2014
Ibnu Pratomo adalah seorang
pandai besi, ia lahir pada tanggal 18 Desember 1976 di Jakarta. Awal mula
ketertarikannya dengan pandai besi, ketika masih kuliah S-1 di Fakultas Seni
Rupa dan Desain (FSRD) di ITB. Alasannya
agak sedikit rumit, ia ingin membangun kembali profesi pandai besi yang tak
bisa terpisahkan dari budaya Indonesia di masa lampau. Keinginannya tersebut
semakin kuat ketika ia kuliah S-2 di Fakultas yang sama. Sambil meneliti, ia
juga menuntut ilmu ke berbagai budayawan, salah satunya adalah “empu” Basuki,
ia pengajar dan juga pembuat keris dari Kampus Institut Seni Indonesia Solo.
Ibnu menuntut ilmu dengan Basuki, enam tahun lamanya.
Disaat yang bersamaan, Ibnu juga
mengamati teman kuliah yang juga adik kelasnya. Ia ingin mencari orang-orang
yang yang memiliki minat yang sama dengan dirinya. Pada tahun 2004, Ibnu dan
beberapa mahasiswa yang berminat, membuat Kelompok Tangan Hitam, dinamakan
Tangan Hitam karena setiap kali mereka menempa logam, tangan mereka menjadi
hitam. Kelompok tersebut akhirnya menarik banyak minat beberapa mahasiswa ITB
lain, sehingga menjadi ramai.
Setelah Ibnu bergelar master seni
murni, ia membentuk Unit Mahasiswa Pijar ITB. Itu adalah kelompok resmi penempa
besi di kampus tersebut. Ibnu menginginkan sesuatu yang lebih, ia ingin agar
menempa besi ini disebar luaskan, agar kegiatan tidak hanya ada di Kampus ITB
saja. Ia pun membentuk Pijar Komunitas Menempa Bandung yang beranggotakan anak
muda, dari berbagai kampus. Sesuai
dengan nama komunitasnya, ia ingin juga agar mereka bisa melanjutkan tradisi
bangsa.
Lewat komunitas itulah Ibnu dan
teman-temannya, mengajarkan ilmu menempa besi dengan mengadakan pelatihan di
kampus-kampus dan beberapa kali di pusat perbelanjaan. Mereka juga terkadang
kedatangan beberapa sekolah untuk kunjungan pariwisata ke markas yang berapa di
Jalan Salatiga, Antapani, Bandung. Ilmu yang diajarkan tidak hanya menempa besi
, tetapi sering adanya diskusi mengenai aspek sejarah pusaka dari logam.
Mereka menguliti filosofi pusaka
dan nilai yang bisa diperoleh dari menempa besi, tetapi mereka tidak memasukan
aspek mistis pusaka, sehingga mereka tidak akan menjawab apa isi dari
keris-keris tersebut. Menerut mereka, isi yang paling penting adalah nilai yang
terkadung di balik pusaka tersebut. Ibnu juga berpendapat bahwa karya pandai
besi tidak identik dengan benda tajam, terutama pusaka.
“Pandai besi yang baik adalah
yang tidak ahli menempa besi menjadi senjata, tetapi juga menempa diri sendiri
sehingga senjata yang dihasilkan tidak digunakan untuk kejahatan”, kata Ibnu.
Penyebarahn ilmu akan semakin disebar luaskan, mereka berencana untuk membuat
sebuah galeri dan juga bengkel kerja di daerah Babakan Siliwangi, hutan rimbun
di pusat keramaian Kota Bandung. Mereka
juga berencana akan menjual produk pusaka karya mereka di bawah Saltig.
Opini
Pandai besi merupaka profesi yang
jarang dipilih oleh orang-orang banyak, terutama remaja. Dikarenakan pekerjaan
yang sulit, berat, panas, dan dibutuhkannya kesabaran dalam profesi ini. Saya
kagum dengan Bapak Ibnu, ia mampu membangun kembali profesi kebudayaan yang
unik di Nusantara ini. Saya berharap semakin banyak profesi yang dapat
memajukan budaya Indonesia, agar budaya kita tidak hilang atau punah.

Saya setuju dengan apa yang Naimi katakan di opini. Saya sedikit berpesan untuk kaum remaja, agar selalu mencintai profesi apapun dan selalu mencoba untuk mencari perubahan agar kelak bangsa Indonesia bisa semakin dikenal dengan budaya atau ciri khasnya, dan tidak lupa untuk selalu melestarikannya :)
BalasHapus