Antonius
Sumarwan SJ
MELAYANI
NASABAH KELAS BAWAH
Kompas, Kamis,
13 November, 2014
Berawal dari pelayanan Pastor
Katolik, laki-laki berusia 37 tahun ini tersinspirasi untuk membuat sebuah
koperasi dengan konsep Grameen Bank atau Bank Desa, untuk masyarakat menengah
kebawah. Terciptanya Bank Desa ini diawali ketika Antonius merasa prihatin
dikarenakan pedagang di sekitar Gereja Santa Perawan Maria Baru Ratu, Blok
Q, Jakarta, didatangi retenir untuk
memberikan angsuran dengan bunga 20-30 persen. Dengan dorongan dari buku yang ia
baca, berjudul Bank Kaum Miskin, karya Muhammad Yamin, ia pun membuat Koperasi
Kredit Mikro.
Berbekal pengetahuan dan modal
dari tabungan pribadi sebesar Rp.2,5 juta, Sumarwan dan lima pegiat CU (Credit Union), berhasil membangun
koperasi tersebut pada bulan September 2008, dengan nama CUMI (Credit Union
Microfinance Innovation). Sasaran utama Sumawarman adalah pedagang kaum
perempuan, dikarenakan mempunyai dampak lebih langsung pada ekonomi keluarga,
dibandingkan dengan laki-laki.
Sasaran pertama Sumawarman
adalah ibu-ibu yang berjualan kue dan buha-buahan, mereka didekati secara personal.
Dari pendekatan itu, proyek CUMI diperkenalkan dan mereka diajak untuk
bergabung. Pada awal system yang dijalankan adalah, digabungkannya renteng ke
dalam lima anggota dalam satu kelompok. Jika salah satu dari anggota mengalami
kredit macet, yang lain harus ikut membantu.
Para anggota diberi pinjaman
modal sebesar Rp. 500,000 per orang, dan angsuran dibayar perminggu sebesar Rp.
25,000 selama 20 kali dengan bunga 3 persen. Sumarwan harus mendatangi rumah
atau tempat daganganya setiap seminggu sekali, dan hal ini harus dilakukan
secara telaten, karena terkadang ada saja anggota yang belum bias membayar
angsuran.
Dengan berjalannya waktu,
proyek CUMI ini bertambah anggotanya, dan pada akhir 2008 tercatat 25 anggota
yang mengikuti CUMI, tidak hanya pedagang di sekitar gereja, tetapi orang-orang yang berdagang di pasar. Pada
tahun 2009, perkembangan CUMI tidaklah berjalan dengan mulus, dikarenakan
masyarakat merasa memasuki proyek CUMI dianggap rumit. Mereka harus mengisi
formulir data anggota keluarga dan kemampuan finansial mereka, dan juga ada
wawancara dengan salah satu pengurus.
Sumarwan pun mencermati, bahwa
masyarakat yang sudah biasa meminjam uang ke bank keliling, akan sulit untuk
beralih ke program CUMI. Kredit macet pada anggota CUMI pun juga masih sering
terjadi, sehingga terkadang yang sudah parah, terpaksa harus dikeluarkan dan
pijamannya di putihkan. Tiga tahun proyek pun berjalan, pada tanggal 15
November 2011, CUMI disahkan dengan nama CUMI Pelita Harapan.
Kini pinjaman tidak hanya
diberikan untuk modal, melainkan juga untuk pendidikan dan perumahan. Banyak
dari anggota sudah sukses dan memiliki warung, usaha kaki lima, dan took yang
menyediakan berbagai keperluan rumah tangga. Hingga kini, setiap hari Kamis,
Sumarwan tetap mendatangi untuk mengambil cicilan pinjaman anggotanya. Pada
tahun 2013, beliau membuka layanan di daerah Tiga Raksa dan Pasar Kamis,
Tanggerang. Dan dalam waktu kurang dari setengah tahun, anggota di wilayah
tersebut sudah mencapai 100 orang.
Kini anggota CUMI PS yang aktif
berkisar 500 dari 1000 orang yang terdaftar. Sekitar 70 persen merupakan
wanita. Total pinjaman yang sudah dicairkan sejak program dirintis mencapai Rp.
3,8 Miliar. Sumarwan berpendapat bahwa semua ini belum mencapai targetnya,
tetapi ia berharap gerakan ini dapat membawa kesejahteraan bagi anggotanya.
Opini
Saya sangat bangga dengan Bapak
Sumarwan, padahal yang seharusnya membuat hal seperti ini adalah Pemerintah,
ternyata beliau lebih sigap dan peka terhadap keadaan masyarakat sekitar.
Semoga hal ini bias menjadi contoh bagi kita, terutama Pemerintah.

Tidak ada usaha yang langsung berhasil, semua pasti melewati suka dan duka. Jika kita semangat pantang menyerah maka keberhasilan atau target sudah berada didepan mata.
BalasHapusPesan untuk Naimi, jangan lupa untuk awal kalimat di tiap paragraf selalu menjorok kedalam:) Terima kasih
Kegiatan yang dilakukan oleh Pak Antonius ini sangatlah baik hati. Dia mau menolong masyarakat kalangan bawah yang ingin memiliki sebuah usaha namun belum memiliki modal. Ia memberi pinjaman dengan pngembalian uang secara berangsur dan tidak terlalu besar. Walaupun usahanya sering mengalami kendala, namun ia tetap berjuang sehinggan membuahkan hasil yaitu koperasinya dapat disahkan. Dengan kegiatan ini juga, banyak anggotanya yang telah memiliki warung,toko, dan sebagainya.
BalasHapusMakasih Nai postingannya :)