Minggu, 30 November 2014

SOSOK (8)



Antonius Sumarwan SJ

MELAYANI NASABAH KELAS BAWAH

Kompas, Kamis, 13 November, 2014



Berawal dari pelayanan Pastor Katolik, laki-laki berusia 37 tahun ini tersinspirasi untuk membuat sebuah koperasi dengan konsep Grameen Bank atau Bank Desa, untuk masyarakat menengah kebawah. Terciptanya Bank Desa ini diawali ketika Antonius merasa prihatin dikarenakan pedagang di sekitar Gereja Santa Perawan Maria Baru Ratu, Blok Q,  Jakarta, didatangi retenir untuk memberikan angsuran dengan bunga 20-30 persen. Dengan dorongan dari buku yang ia baca, berjudul Bank Kaum Miskin, karya Muhammad Yamin, ia pun membuat Koperasi Kredit Mikro.

Berbekal pengetahuan dan modal dari tabungan pribadi sebesar Rp.2,5 juta, Sumarwan dan lima pegiat CU (Credit Union), berhasil membangun koperasi tersebut pada bulan September 2008, dengan nama CUMI (Credit Union Microfinance Innovation). Sasaran utama Sumawarman adalah pedagang kaum perempuan, dikarenakan mempunyai dampak lebih langsung pada ekonomi keluarga, dibandingkan dengan laki-laki.

Sasaran pertama Sumawarman adalah ibu-ibu yang berjualan kue dan buha-buahan, mereka didekati secara personal. Dari pendekatan itu, proyek CUMI diperkenalkan dan mereka diajak untuk bergabung. Pada awal system yang dijalankan adalah, digabungkannya renteng ke dalam lima anggota dalam satu kelompok. Jika salah satu dari anggota mengalami kredit macet, yang lain harus ikut membantu.

Para anggota diberi pinjaman modal sebesar Rp. 500,000 per orang, dan angsuran dibayar perminggu sebesar Rp. 25,000 selama 20 kali dengan bunga 3 persen. Sumarwan harus mendatangi rumah atau tempat daganganya setiap seminggu sekali, dan hal ini harus dilakukan secara telaten, karena terkadang ada saja anggota yang belum bias membayar angsuran.

Dengan berjalannya waktu, proyek CUMI ini bertambah anggotanya, dan pada akhir 2008 tercatat 25 anggota yang mengikuti CUMI, tidak hanya pedagang di sekitar gereja, tetapi  orang-orang yang berdagang di pasar. Pada tahun 2009, perkembangan CUMI tidaklah berjalan dengan mulus, dikarenakan masyarakat merasa memasuki proyek CUMI dianggap rumit. Mereka harus mengisi formulir data anggota keluarga dan kemampuan finansial mereka, dan juga ada wawancara dengan salah satu pengurus.

Sumarwan pun mencermati, bahwa masyarakat yang sudah biasa meminjam uang ke bank keliling, akan sulit untuk beralih ke program CUMI. Kredit macet pada anggota CUMI pun juga masih sering terjadi, sehingga terkadang yang sudah parah, terpaksa harus dikeluarkan dan pijamannya di putihkan. Tiga tahun proyek pun berjalan, pada tanggal 15 November 2011, CUMI disahkan dengan nama CUMI Pelita Harapan. 

Kini pinjaman tidak hanya diberikan untuk modal, melainkan juga untuk pendidikan dan perumahan. Banyak dari anggota sudah sukses dan memiliki warung, usaha kaki lima, dan took yang menyediakan berbagai keperluan rumah tangga. Hingga kini, setiap hari Kamis, Sumarwan tetap mendatangi untuk mengambil cicilan pinjaman anggotanya. Pada tahun 2013, beliau membuka layanan di daerah Tiga Raksa dan Pasar Kamis, Tanggerang. Dan dalam waktu kurang dari setengah tahun, anggota di wilayah tersebut sudah mencapai 100 orang.

Kini anggota CUMI PS yang aktif berkisar 500 dari 1000 orang yang terdaftar. Sekitar 70 persen merupakan wanita. Total pinjaman yang sudah dicairkan sejak program dirintis mencapai Rp. 3,8 Miliar. Sumarwan berpendapat bahwa semua ini belum mencapai targetnya, tetapi ia berharap gerakan ini dapat membawa kesejahteraan bagi anggotanya.


Opini

Saya sangat bangga dengan Bapak Sumarwan, padahal yang seharusnya membuat hal seperti ini adalah Pemerintah, ternyata beliau lebih sigap dan peka terhadap keadaan masyarakat sekitar. Semoga hal ini bias menjadi contoh bagi kita, terutama Pemerintah.

2 komentar:

  1. Tidak ada usaha yang langsung berhasil, semua pasti melewati suka dan duka. Jika kita semangat pantang menyerah maka keberhasilan atau target sudah berada didepan mata.
    Pesan untuk Naimi, jangan lupa untuk awal kalimat di tiap paragraf selalu menjorok kedalam:) Terima kasih

    BalasHapus
  2. Kegiatan yang dilakukan oleh Pak Antonius ini sangatlah baik hati. Dia mau menolong masyarakat kalangan bawah yang ingin memiliki sebuah usaha namun belum memiliki modal. Ia memberi pinjaman dengan pngembalian uang secara berangsur dan tidak terlalu besar. Walaupun usahanya sering mengalami kendala, namun ia tetap berjuang sehinggan membuahkan hasil yaitu koperasinya dapat disahkan. Dengan kegiatan ini juga, banyak anggotanya yang telah memiliki warung,toko, dan sebagainya.
    Makasih Nai postingannya :)

    BalasHapus