KADARUSMAN
PENELITI IKAN PELANGI ASLI PAPUA
KOMPAS, SENIN, 12 OKTOBER 2014
Kadarusman namanya, ia adalah
seorang dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong, Papua Barat. Ia lahir
di Kampung Isoka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan pada tanggal 23 September
1979. Ia tumbuh di masa yang sulit yaitu sebagai anak petani yang miskin di
Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa, Sulawes Selatan. Selain petani,
ayahnya juga bekerja sebagai penjual ikan tambang (Atheriniformes), yang ternyata adalah nenek moyang ikan pelangi.
Kadarusman mengeluarkan
teori bahwa ikan pelangi atau disebut juga dengan Melanotaenia, berasal dari Papua, bukan dari Benua Australia. Teori
tersebut ditemukannya dengan sebuah penelitian. Ia terinspirasi untuk menekuni
penelitian ini dikarenakan profesornya yang berasal dari Perancis. Dan pada
saat ia mendapatkan beasiswa S-2 oleh Pemerintah Perancis, ia diberi masukan
untuk mengembangkan penelitian ikan endemik Papua, saat itu lah ia memilih ikan
pelangi untuk ia kembangkan.
Ia memilih ikan pelangi
dikarenakan, bahwa ikan ini hidup di air tawar dan banyak sekali populasinya di
Papua. Dan pada saat itu, ikan pelangi belum di teliti secara ilmiah, padahal
ikan tersebut sudah popular di luar negeri. Walaupun minim dengan fasilitas,
Kadarusman terus berkontribusi untuk Indonesia. Pada tahun 2005, jaringan
internet dan untuk mengirim e-mail
belum ada, tetapi ia tidak juga menyerah untuk membangun nama Indonesia.
Dengan prinsip kemitraan, ia melakukan
ekpedisi di berbagai tempat. Di ekspedisinya yang pertama, ia lakukan pada
tahun 2007 di Raja Ampat, Manokwari, Sorong Selatan, dan Bintuni yang dilakukan
selama satu bulan di perairan tawar, ia menemukan 600 spesimen disana. Ia juga
sempat bertaruh nyawa pada saat menjelajahi Danau Kurumi di Bintuni Timur,
karena adanya ancaman malaria dan sempat tersesat dengan dikelilingi buaya yang
berkeliaran disana.
Ekspedisi kedua pada tahun
2008, ia menemukan ikan pelangi di Manokwari, Teluk Wondama, Nabire, Yapen,
hingga Waropen. Dan pada tahun 2009, ia melanjutkan eksepedisinya ke Teluk
Cendrawasih dan Raja Ampat Selatan. Pada tahun 2010, ia melakukan ekspedisinya
kembali ke Kaimana, disini ia menemukan banyak ikan pelangi. Ekspedisi ini
melibatkan 10 negara dengan peneliti sekitar 50 orang. Dan sampai sekarang pun
ekspedisi masih terus berjalan, ia dan tim nya melanjutkan penelitian tentang New Guinean fresh-water fishes, dan
dengan bekerja sama dengan pihak luar, ia melibatkan lembaga riset-beberapa Negara.Dia
dan tim juga menyiapkan ekspedisi Lengguru 2014 dan program riset turunannya
hingga 2020.
Dengan reputasinya sebagai
peneliti internasional, ia dapat menghadirkan dosen dan peneliti ternama dari
dalam maupun luar negeri, di hadapan taruna (mahasiswa). Ia dan tim nya juga
menganisiasi sebuah jaringan (daring) internasional lewat program Virtual Guest
Lecture Series. Kuliah daring pun berjalan dengan proyektor yang awalnya di
letakan di kardus. Selain itu, Karya ilmiah dan penelitian Kadarusman tentang
ikan pelangi, membawa ia untuk mendapatkan penghargaan dari Schutzenberger
Award dari Afides Institute, Perancis pada tahun 2010.
Totalitas Kadarusman juga
menjadikan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong di kawasan timur Indonesia,
memiliki keunggulan program riset internasional ikan pelangi, mengarakteristikan diversitas ikan pelangi
Austro-New Guinea. Beliau meyakini, bahwa keanekaragaman hayati di Indonesia
harus digali oleh peneliti Indonesia, tidak hanya itu, ia yakin bahwa ikan
pelangi akan menjadikan nilai ekonomi meningkat. Dengan begitu, ia sangat
semangat dalam mendukung mahasiswa S-1 hingga S-3, untuk mendapatkan beasiswa
riset, melalui jaringan kerja sama yang ia miliki di tingkat internasional.
Opini :
Menurut saya, Bapak Kadarusman
merupakan orang yang sangat patut untuk dikagumi, tidak hanya karena kerja
keras dan pertaruhan nyawa beliau dalam mencari ikan pelangi, tetapi juga dalam
membawa harum nama bangsa Indonesia.

Waaw..Ternyata masih ada orang yang ingin mengharumkan nama Indonesia sampai nyawa-nya harus dipertaruhkan. Perjuangan Ia tidak sia-sia karena semangat dan ketekunan Pak Kadarusman ia dapat menghadirkan sosok yang ternama dan mendapatkan penghargaan dari Schutzenberger. Semoga masih banyak benih-benih seperti Pak Kadarusman yang ingin terus berjuang demi mengharumkan nama Indonesia:)
BalasHapusMeneliti ikan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan tetapi hal ini sering disepelekan oleh banyak orang. Tidak menyangka, Bapak Kadarusman ini berhasil melakukannya bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya sendiri. Dan yang semakin mengagumkan, beliau berhasil mengharumkan nama Bangsa Indonesia.
BalasHapus