Senin, 10 November 2014

SOSOK (5)



KADARUSMAN


PENELITI IKAN PELANGI ASLI PAPUA

KOMPAS, SENIN, 12 OKTOBER 2014

Kadarusman namanya, ia adalah seorang dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong, Papua Barat. Ia lahir di Kampung Isoka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan pada tanggal 23 September 1979. Ia tumbuh di masa yang sulit yaitu sebagai anak petani yang miskin di Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa, Sulawes Selatan. Selain petani, ayahnya juga bekerja sebagai penjual ikan tambang (Atheriniformes), yang ternyata adalah nenek moyang ikan pelangi.

Kadarusman mengeluarkan teori bahwa ikan pelangi atau disebut juga dengan Melanotaenia, berasal dari Papua, bukan dari Benua Australia. Teori tersebut ditemukannya dengan sebuah penelitian. Ia terinspirasi untuk menekuni penelitian ini dikarenakan profesornya yang berasal dari Perancis. Dan pada saat ia mendapatkan beasiswa S-2 oleh Pemerintah Perancis, ia diberi masukan untuk mengembangkan penelitian ikan endemik Papua, saat itu lah ia memilih ikan pelangi untuk ia kembangkan.

Ia memilih ikan pelangi dikarenakan, bahwa ikan ini hidup di air tawar dan banyak sekali populasinya di Papua. Dan pada saat itu, ikan pelangi belum di teliti secara ilmiah, padahal ikan tersebut sudah popular di luar negeri. Walaupun minim dengan fasilitas, Kadarusman terus berkontribusi untuk Indonesia. Pada tahun 2005, jaringan internet dan untuk mengirim e-mail belum ada, tetapi ia tidak juga menyerah untuk membangun nama Indonesia.

 Dengan prinsip kemitraan, ia melakukan ekpedisi di berbagai tempat. Di ekspedisinya yang pertama, ia lakukan pada tahun 2007 di Raja Ampat, Manokwari, Sorong Selatan, dan Bintuni yang dilakukan selama satu bulan di perairan tawar, ia menemukan 600 spesimen disana. Ia juga sempat bertaruh nyawa pada saat menjelajahi Danau Kurumi di Bintuni Timur, karena adanya ancaman malaria dan sempat tersesat dengan dikelilingi buaya yang berkeliaran disana.

Ekspedisi kedua pada tahun 2008, ia menemukan ikan pelangi di Manokwari, Teluk Wondama, Nabire, Yapen, hingga Waropen. Dan pada tahun 2009, ia melanjutkan eksepedisinya ke Teluk Cendrawasih dan Raja Ampat Selatan. Pada tahun 2010, ia melakukan ekspedisinya kembali ke Kaimana, disini ia menemukan banyak ikan pelangi. Ekspedisi ini melibatkan 10 negara dengan peneliti sekitar 50 orang. Dan sampai sekarang pun ekspedisi masih terus berjalan, ia dan tim nya melanjutkan penelitian tentang New Guinean fresh-water fishes, dan dengan bekerja sama dengan pihak luar, ia melibatkan lembaga riset-beberapa Negara.Dia dan tim juga menyiapkan ekspedisi Lengguru 2014 dan program riset turunannya hingga 2020.

Dengan reputasinya sebagai peneliti internasional, ia dapat menghadirkan dosen dan peneliti ternama dari dalam maupun luar negeri, di hadapan taruna (mahasiswa). Ia dan tim nya juga menganisiasi sebuah jaringan (daring) internasional lewat program Virtual Guest Lecture Series. Kuliah daring pun berjalan dengan proyektor yang awalnya di letakan di kardus. Selain itu, Karya ilmiah dan penelitian Kadarusman tentang ikan pelangi, membawa ia untuk mendapatkan penghargaan dari Schutzenberger Award dari Afides Institute, Perancis pada tahun 2010.

Totalitas Kadarusman juga menjadikan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong di kawasan timur Indonesia, memiliki keunggulan program riset internasional ikan pelangi,  mengarakteristikan diversitas ikan pelangi Austro-New Guinea. Beliau meyakini, bahwa keanekaragaman hayati di Indonesia harus digali oleh peneliti Indonesia, tidak hanya itu, ia yakin bahwa ikan pelangi akan menjadikan nilai ekonomi meningkat. Dengan begitu, ia sangat semangat dalam mendukung mahasiswa S-1 hingga S-3, untuk mendapatkan beasiswa riset, melalui jaringan kerja sama yang ia miliki di tingkat internasional.

Opini :

Menurut saya, Bapak Kadarusman merupakan orang yang sangat patut untuk dikagumi, tidak hanya karena kerja keras dan pertaruhan nyawa beliau dalam mencari ikan pelangi, tetapi juga dalam membawa harum nama bangsa Indonesia.

2 komentar:

  1. Waaw..Ternyata masih ada orang yang ingin mengharumkan nama Indonesia sampai nyawa-nya harus dipertaruhkan. Perjuangan Ia tidak sia-sia karena semangat dan ketekunan Pak Kadarusman ia dapat menghadirkan sosok yang ternama dan mendapatkan penghargaan dari Schutzenberger. Semoga masih banyak benih-benih seperti Pak Kadarusman yang ingin terus berjuang demi mengharumkan nama Indonesia:)

    BalasHapus
  2. Meneliti ikan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan tetapi hal ini sering disepelekan oleh banyak orang. Tidak menyangka, Bapak Kadarusman ini berhasil melakukannya bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya sendiri. Dan yang semakin mengagumkan, beliau berhasil mengharumkan nama Bangsa Indonesia.

    BalasHapus