Agus “Agnes” Widodo
PENERUS SAMPUR LENGGER LANANG BANYUMAS
Kompas, Rabu, 21 mei 2014
Agus widodo adalah nama
aslinya, sedangkan nama panggungnya adalah Agnes. Pria kelahiran 14 Agustus
1987 asal Banyumas ini, adalah seorang penari lengger yang terkenal di kota
asalnya tersebut. Tidak hanya di Banyumas, tetapi ia juga terkenal di sejumlah
wilayah di Jawa Barat. Anak dari Bapak Hadisusilo dan Ibu Sainah ini, mencintai
kesenian tari lengger sejak ia masih balita. Saat itu, Agus diajak oleh sang
kakek untuk menemaninya untuk mengisi acara hajatan wayang atau pertunjukan
kesenian lokal. Kakeknya merupakan pengrawit calung banyumasan, sehingga tidak
heran jika seni sudah mengalir didalam diri Agus. Pada hajatan tersebut, Agus
terpukau dengan gemulainya penari lengger yang menjadi bintang panggung disana.
Setelah malam itu, Agus pun
mulai nekat untuk mencuri waktu untuk kabur mengikuti rombongan lengger pentas
dari dusun ke dusun. Dia pun akhirnya sering menari dan meniru gerakan penari
lengger tersebut. Hal itu pun memengaruhi dirinya untuk menyukai hal-hal yang
feminin. Tidak hanya menari, saat ia kelas V SD, ia mulai membantu tetangganya
yang mempunyai usaha rias, sehingga tidak heran ia sering disebut sebagai
banci. Walaupun sedih, Agus terus melanjutkan kecintaannya tersebut. Setelah berjalannya waktu, ia pun akhirnya
semakin sering mendapatkan tawaran untuk pentas ke kampung-kampung lain.
Agus menolak permintaan ayahnya
untuk bersekolah di STM, dan melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah
Kesenian Indonesia (SMKI) Banyumas. Saat bersekolah di sana, Agus mengenal
sosok Mbok Dariah, sang maestro lengger lanang Banyumas. Mbok Dariah merupakan
seorang penari sejak era perjuangan kemerdekaan. Yusmanto, salah seorang guru
di SMKI Banyumas, menawari Agus untuk memainkan peran Mbok Dariah muda. Dan
disaat memerankan peran tersebut, Agus pun terpanggil untuk meneruskan tari
lengger lanang yang pada saat itu terhenti.
Setelah lulus dari SMKI
Banyumas, Agus lebih memilih untuk langsung terjun ke panggung, dibandingkan
harus meneruskan pendidikannya ke Institut Seni Indonesia (ISI), Karena menurut
dia, dia sudah yakin untuk menjadi seorang penari lengger. Dia pun memilih nama
“Agnes” sebagai nama panggungnya. Persaingan pun terkadang membuat karier Agus
tidaklah mudah, tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah. Sebelum ia memulai
pentasnya, Agus “mengubah” dirinya menjadi Agnes, ia harus berangkat dan pulang
manggung menggunakan baju laki-laki biasa.
Agus menampilkan citra sebagai lengger lanang secara utuh, tidak seperti
penari lengger lainnya.
Pencapaian yang Agus dapat
adalah, menari di Taman KB Semarang (Apresiasi Budaya Jateng, 2014), dan International Mask and Art Culture
Organization (Festival and
Celebrating The 40th Anniversary of Korea-Indonesia Diplomatic
Relations, Andong, Korea Selatan, 2013) Walaupun tenar, hal tersebut tidak
merubah diri Agus. Ia tetap hidup sederhana di perbukitan di ujung selatan
Kabupaten Banyumas. Sesekali, Agus mengajar anak-anak di kampugnya menari. Ia
juga aktif mengasuh sanggar seni ebeg
(kuda panjang). Harapannya adalah, agar tari lengger lanang dari Banyumas
banyak bermunculan, sehingga 20-30 tahun lagi tidak membatu menjadi sejarah.
Opini
Menurut saya, Agus adalah sosok
yang tidak mudah menyerah, dan mempunyai prinsip yang kuat akan keinginan dan
cita-citanya tersebut. Walaupun sudah dicibir teman-temannya, Agus tetap menjalani
cita-citanya tanpa terhalang oleh cibiran tersebut. Sehingga ia dapat mencapai
kesuksesannya hingga sekarang.
Hai Naimi. ceritanya menarik karena masih ada orang yang mau melestarikan kesenian tradisional tanpa mementingkan apakata orang..
BalasHapusselamat malam naimi :)
BalasHapusElvina mau memberi masukkan sedikit ya hehe. sebaiknya di post ini diberi foto dari si sosok tersebut seperti postingan naimi yang lain.
Sedangkan isinya sudah bagus, saya pun kagum dengan Bapak Agus ini karena ia tisak malu walaupun lelaki tetapi memiliki sebutan "penari" dan ia pun bangga untuk segala yang telah ia capai sampai sekarang. Memang terkadang kita harus menutup kuping dari semua olokan2 orang lain, karena jika selalu mendengarkan apa yang orang lain tidak suka, kita tidak akan pernah dapat maju dalam menjalani kehidupan.