Kamis, 23 Oktober 2014

SOSOK (2)


Agus “Agnes” Widodo

PENERUS SAMPUR LENGGER LANANG BANYUMAS

Kompas, Rabu, 21 mei 2014

 

Agus widodo adalah nama aslinya, sedangkan nama panggungnya adalah Agnes. Pria kelahiran 14 Agustus 1987 asal Banyumas ini, adalah seorang penari lengger yang terkenal di kota asalnya tersebut. Tidak hanya di Banyumas, tetapi ia juga terkenal di sejumlah wilayah di Jawa Barat. Anak dari Bapak Hadisusilo dan Ibu Sainah ini, mencintai kesenian tari lengger sejak ia masih balita. Saat itu, Agus diajak oleh sang kakek untuk menemaninya untuk mengisi acara hajatan wayang atau pertunjukan kesenian lokal. Kakeknya merupakan pengrawit calung banyumasan, sehingga tidak heran jika seni sudah mengalir didalam diri Agus. Pada hajatan tersebut, Agus terpukau dengan gemulainya penari lengger yang menjadi bintang panggung disana.

Setelah malam itu, Agus pun mulai nekat untuk mencuri waktu untuk kabur mengikuti rombongan lengger pentas dari dusun ke dusun. Dia pun akhirnya sering menari dan meniru gerakan penari lengger tersebut. Hal itu pun memengaruhi dirinya untuk menyukai hal-hal yang feminin. Tidak hanya menari, saat ia kelas V SD, ia mulai membantu tetangganya yang mempunyai usaha rias, sehingga tidak heran ia sering disebut sebagai banci. Walaupun sedih, Agus terus melanjutkan kecintaannya tersebut.  Setelah berjalannya waktu, ia pun akhirnya semakin sering mendapatkan tawaran untuk pentas ke kampung-kampung lain.

Agus menolak permintaan ayahnya untuk bersekolah di STM, dan melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI) Banyumas. Saat bersekolah di sana, Agus mengenal sosok Mbok Dariah, sang maestro lengger lanang Banyumas. Mbok Dariah merupakan seorang penari sejak era perjuangan kemerdekaan. Yusmanto, salah seorang guru di SMKI Banyumas, menawari Agus untuk memainkan peran Mbok Dariah muda. Dan disaat memerankan peran tersebut, Agus pun terpanggil untuk meneruskan tari lengger lanang yang pada saat itu terhenti.

Setelah lulus dari SMKI Banyumas, Agus lebih memilih untuk langsung terjun ke panggung, dibandingkan harus meneruskan pendidikannya ke Institut Seni Indonesia (ISI), Karena menurut dia, dia sudah yakin untuk menjadi seorang penari lengger. Dia pun memilih nama “Agnes” sebagai nama panggungnya. Persaingan pun terkadang membuat karier Agus tidaklah mudah, tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah. Sebelum ia memulai pentasnya, Agus “mengubah” dirinya menjadi Agnes, ia harus berangkat dan pulang manggung menggunakan baju laki-laki biasa.  Agus menampilkan citra sebagai lengger lanang secara utuh, tidak seperti penari lengger lainnya.

Pencapaian yang Agus dapat adalah, menari di Taman KB Semarang (Apresiasi Budaya Jateng, 2014), dan International Mask and Art Culture Organization (Festival and Celebrating The 40th Anniversary of Korea-Indonesia Diplomatic Relations, Andong, Korea Selatan, 2013) Walaupun tenar, hal tersebut tidak merubah diri Agus. Ia tetap hidup sederhana di perbukitan di ujung selatan Kabupaten Banyumas. Sesekali, Agus mengajar anak-anak di kampugnya menari. Ia juga aktif mengasuh sanggar seni ebeg (kuda panjang). Harapannya adalah, agar tari lengger lanang dari Banyumas banyak bermunculan, sehingga 20-30 tahun lagi tidak membatu menjadi sejarah.

 

Opini

Menurut saya, Agus adalah sosok yang tidak mudah menyerah, dan mempunyai prinsip yang kuat akan keinginan dan cita-citanya tersebut. Walaupun sudah dicibir teman-temannya, Agus tetap menjalani cita-citanya tanpa terhalang oleh cibiran tersebut. Sehingga ia dapat mencapai kesuksesannya hingga sekarang.

2 komentar:

  1. Hai Naimi. ceritanya menarik karena masih ada orang yang mau melestarikan kesenian tradisional tanpa mementingkan apakata orang..

    BalasHapus
  2. selamat malam naimi :)
    Elvina mau memberi masukkan sedikit ya hehe. sebaiknya di post ini diberi foto dari si sosok tersebut seperti postingan naimi yang lain.
    Sedangkan isinya sudah bagus, saya pun kagum dengan Bapak Agus ini karena ia tisak malu walaupun lelaki tetapi memiliki sebutan "penari" dan ia pun bangga untuk segala yang telah ia capai sampai sekarang. Memang terkadang kita harus menutup kuping dari semua olokan2 orang lain, karena jika selalu mendengarkan apa yang orang lain tidak suka, kita tidak akan pernah dapat maju dalam menjalani kehidupan.

    BalasHapus