Ferri Iskandar
Berkarya dari Gempa dan Banjir
Kompas, Senin, 29 September 2014
Ferri Iskandar yang biasa dipanggil Ferri,adalah seorang yang memproduksi tenda, toilet bongkar pasang, dan tangki air. Ia tumbuh dengan kepedualiannya dengan permasalahan lingkungan. Ferri mengawali perjalanan karyanya semenjak ia tamat SMA. Ia menjadi mahasiswa jurusan Mekanisasi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Tidak hanya menjadi mahasiswa biasa, ia juga seorang perantau. Ia selama kuliah gemar mendaki gunung, jalan ke sejumlah daerah dengan menggunakan truk, dan juga menumpang tidur di rumah penduduk dan kantor polisi.
Kegiatan Ferri menumbuhkan kepekaannya terhadap masalah lingkungan. Lulus kuliah, ia bergabung dengan Yayasan Dian Desa. Saat itu ia pernah terlibat dalam survey lapangan berbagai studi kemasyarakatan, seperti relokasi masalah setelah banjir. Selama tujuh tahun di Yayasan Dian Desa, ia mengelolah proyek kampanye social untuk mendorong masyarakat dalam membangun perkotaan. Ide akan produksi dan perdagangan, mendorong Ferri untuk membuat The Trekkers pada tahun 2004. Awalanya, toko tersebut menjual sepatu gunung buatan Bandung dan peralatan kegiatan luar ruang.
Usaha ini sempat turun dikarenakan kenaikan harga pada tahun 2006, dan disusul dengan gempa yang mengguncang Yogyakarta. Rumah Ferri tidak terkena gempa, tetapi ia memilih untuk menutup toko dan bekerja sebagai relawan penangan korban gempa. Sejak saat itu lah, ia memikirkan akan pentingnya tenda, toilet, dan tangki air. Untuk tempat teduh sementara, ia memasang tenda yang di produksi di Bandung, disini ia mempelajari berbagai jenis dan kualitas tenda. Dan pada saat itu, tangki air masih di datangkan dari luar negeri, Ferri membutuhkan waktu empat tahun untuk bisa memproduksi tangki air dengan kerangka galvanis tanpa kerangka besi.
Produksi yang ia buat, tidak hanya bermanfaat untuk bencana alam saja, tangki terbesar yang dibuat Ferri (10 meter x 20 meter x 1,5 meter), merupakan pesanan di Papua untuk uji keterampilan karyawan dalam air. Dengan awal dari pengamatan, ia mengajak perajin untuk membuat produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan. Ferri juga belajar dari kegagalan, tenda yang berbahan aluminium ternyata cepat rusak karena beban tumpukan abu letusan Gunung Merapi. Walaupun gagal, ia yakin jika kita bekerja dengan hati, maka akan menghasilkan energi yang berlimpah.
Opini
Dengan membaca sosok Ferri, saya belajar akan pentingnya peduli dengan lingkungan dan belajar dari kegagalan. Hidup terkadang naik turun, dan juga banyak cobaan yang harus dilalui, tidak hanya dari masyarakat, tetapi juga dari alam. Walupun begitu, jika kita memang yakin dan niat akan mimpi dan terus berusaha, maka kesuksesan dapat kita capai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar