AIKO KURASAWA
Indonesia yang Didorong Rasa Malu
Kompas, Selasa, 30 September 2014
Aiko
Kurasawa (68), adalah seorang ahli Indonesia atau Indosianis asal Jepang.
Cintanya akan Indonesia dimulai saat menjadi mahasiswa Universitas Tokyo, ia
lulus dengan skripsi mengenai pemberontakan Peta di Blitar pada 1944. Ia pun
melanjutkan kuliahnya di Amerika Serikat. Setelah bergelar doctor, ia kembali
mengajar di Universitas Setsunan, Osaka yang dia jalani sejak 1981. Pada tahun
1991, ia menjadi anggota staf peneliti pada Kedutaan Besar Jepang di Jakarta,
disini lah ia bertemu dengan Inomata swadaya masyarakat (LSM) semipemerintah
Jepang.
Pada
tahun 1993, ia kembali ke Jepang untuk mengajar pascasarjana Universitas
Nagoya. Dan kini ia menjadi professor emeritus di Universitas Keio dengan
spesialisasi sejarah ekonomi Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Setiap kali ia
ke Indonesia, ia membawa beberapa mahasiswanya untuk tinggal beberapa hari
dalam keluarga di sejumlah kota atau desa. Selain memperkenalkan Indonesia kepada
mahasiswanya, ia juga secara rutin melihat permasalahan terkini yang ada di
Indonesia. Ia pun menjadi tertarik dengan pengamatan mengenai sejarah hubungan
Indonesia dengan Jepang, khususnya ketika Jepang menguasai Indonesia.
Banyak
persoalan yang tidak diketahui publik, dengan penelitian Aiko, munculah sisi
positif dan negatif Jepang di Indonesia. Masalah jugun ianfu dan romusa, juga diteliti oleh Aiko, ia tertarik dengan
keterlibatan sejumlah personel Angkatan Laut Jepang, khususnya Laksamana
Tadhasi Maeda (1898-1977) dalam proses kemerdekaan Indonesia. Dengan dilakukannya penelitian tersebut,
diketahui oleh Aiko bahwa Maeda hidup dalam keadaan merana yang hidup di Tokyo
dengan uang yang pas-pasan.
Sedangkan
mengenai tentara, adanya perbedaan antara Angkatan Darat yang tak ingin
Indonesi merdeka, sedangkan Angkatan Laut sebaliknya. Aiko menjelaskan bahwa
Angkatan Laut Jepang sering memberikan pelatihan bagi toko muda pergerakan
Indonesia. Sejak saat itu, sejumlah
orang Jepang membelok dari kepentingan bangsanya, diantaranya ada Maeda dan
perwira intelijen Tomegoro Yoshizumi. Mereka hadir pada hari perumusan teks
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 16 Agustus 1945.
Sebagai
ilmuwan dan sejarawan, Aiko merasa cukup
memberikan berbagai perspektif akan peristiwa sejarah pendudukan Jepang di
Indonesia. Ia mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mencerahan, bukan
menggalang aksi.
Opini
Setelah
saya membaca toko Aiko diatas, saya sedikit malu dengan diri saya sendiri,
dikarenakan, saya yang asli warga Indonesia, tidak mempunyai semangat yang
tinggi akan keingin tahuan lebih akan Negara Indonesia ini. Dengan melihat
sosok Aiko, saya menjadi sadar akan kurangnya saya menghargai Negara saya ini,
padahal banyak kelebihan dan sejarah yang sangat mengagumkan di balik semua
yang telah di korbankan oleh para pahlawan kita. Semoga para pembaca yang lain
juga bisa terketuk hatinya untuk lebih mencintai Negara kita ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar