Sabtu, 03 Januari 2015

SOSOK (12)


AIKO KURASAWA


Indonesia yang Didorong Rasa Malu

Kompas, Selasa, 30 September 2014


Aiko Kurasawa (68), adalah seorang ahli Indonesia atau Indosianis asal Jepang. Cintanya akan Indonesia dimulai saat menjadi mahasiswa Universitas Tokyo, ia lulus dengan skripsi mengenai pemberontakan Peta di Blitar pada 1944. Ia pun melanjutkan kuliahnya di Amerika Serikat. Setelah bergelar doctor, ia kembali mengajar di Universitas Setsunan, Osaka yang dia jalani sejak 1981. Pada tahun 1991, ia menjadi anggota staf peneliti pada Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, disini lah ia bertemu dengan Inomata swadaya masyarakat (LSM) semipemerintah Jepang.

Pada tahun 1993, ia kembali ke Jepang untuk mengajar pascasarjana Universitas Nagoya. Dan kini ia menjadi professor emeritus di Universitas Keio dengan spesialisasi sejarah ekonomi Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Setiap kali ia ke Indonesia, ia membawa beberapa mahasiswanya untuk tinggal beberapa hari dalam keluarga di sejumlah kota atau desa. Selain memperkenalkan Indonesia kepada mahasiswanya, ia juga secara rutin melihat permasalahan terkini yang ada di Indonesia. Ia pun menjadi tertarik dengan pengamatan mengenai sejarah hubungan Indonesia dengan Jepang, khususnya ketika Jepang menguasai Indonesia.

Banyak persoalan yang tidak diketahui publik, dengan penelitian Aiko, munculah sisi positif dan negatif Jepang di Indonesia. Masalah jugun ianfu dan romusa, juga diteliti oleh Aiko, ia tertarik dengan keterlibatan sejumlah personel Angkatan Laut Jepang, khususnya Laksamana Tadhasi Maeda (1898-1977) dalam proses kemerdekaan Indonesia.  Dengan dilakukannya penelitian tersebut, diketahui oleh Aiko bahwa Maeda hidup dalam keadaan merana yang hidup di Tokyo dengan uang yang pas-pasan.

Sedangkan mengenai tentara, adanya perbedaan antara Angkatan Darat yang tak ingin Indonesi merdeka, sedangkan Angkatan Laut sebaliknya. Aiko menjelaskan bahwa Angkatan Laut Jepang sering memberikan pelatihan bagi toko muda pergerakan Indonesia.  Sejak saat itu, sejumlah orang Jepang membelok dari kepentingan bangsanya, diantaranya ada Maeda dan perwira intelijen Tomegoro Yoshizumi. Mereka hadir pada hari perumusan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 16 Agustus 1945.

Sebagai ilmuwan dan sejarawan, Aiko  merasa cukup memberikan berbagai perspektif akan peristiwa sejarah pendudukan Jepang di Indonesia. Ia mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mencerahan, bukan menggalang aksi.


Opini

Setelah saya membaca toko Aiko diatas, saya sedikit malu dengan diri saya sendiri, dikarenakan, saya yang asli warga Indonesia, tidak mempunyai semangat yang tinggi akan keingin tahuan lebih akan Negara Indonesia ini. Dengan melihat sosok Aiko, saya menjadi sadar akan kurangnya saya menghargai Negara saya ini, padahal banyak kelebihan dan sejarah yang sangat mengagumkan di balik semua yang telah di korbankan oleh para pahlawan kita. Semoga para pembaca yang lain juga bisa terketuk hatinya untuk lebih mencintai Negara kita ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar